Rabu, 09 Maret 2011

Dibalik Sebuah Topeng Berwajah Dewa part 3

Sudah jatuh tertimpa tangga pula itulah rasanya yang bang Ali rasakan saat ini. Betapa tidak berbagai kejadian yang membuat hidupnya nelangsa rasanya serentak silih berganti menghujam bang Ali. Tak tau harus kemana lagi, satu-satunya harapan untuk bangkit dari keterpurukan sudah musnah.

"Sekarang apa yang bisa aku lakukan lagi....? semua sudah hancur berantakan..... tak lagi tersisa semuanya.... aku sudah pasrah ma..... ".
"Ini sudah cobaan yah.... mama tidak menyesali semua ini terjadi yah..... mungkin sudah suratan illahi...."
"Ayah menyesal terlalu ceroboh mengambil keputusan, coba kalau bapak tidak menjadikan jaminan sertifikat rumah kita.... sekarang bapak bingung ma..... kita mau tinggal dimana kalau rumah kita disita nanti...?"
"Sudahlah yah..... jangan terlalu memikirkan masalah itu.... insyaallah mama ikhlas yah menghadapi semua masalah kita saat ini.....".

Seperti semilir angin sejuk menerpa hati bang Ali yang kalut mendengar ucapannya istrinya yang benar-benar ikhlas menghadapi semua problema yang harus mereka hadapi saat ini. Bertubi-tubi cobaan itu datang menghujam bang Ali tanpa henti, kini dia sudah tak punya apa-apa lagi.

3 bulan kemudian

Disiang hari itu sedang dalam suasana santai dirumah bang Ali, mereka begitu asyik bercengkrama bersama. Ditengah hangatnya kebersamaan mereka harus dibuyarkan dengan kedatangan Rifai bersama rombongannya.

"Bang Ali..... muali detik ini, aku perintahkan kalian untuk segera meninggalkan rumah ini....!!!!". Rifai yang datang bersama rombongannya langsung menggedor pintu depan sembari memberikan ultimatum kepada keluarga bang Ali,bang Ali pun keluar menemui mereka.
"Rifai, tolong kasihanilah kami..... beri kami sedikit waktu lagi untuk bisa melunasi hutang-hutang kami...".
"Sudah terlalu sabar aku selama ini bang Ali..... tapi apa kenyataannya 3 bulan ini jangankan kalian melunasi,mencicil saja kalian sudah tidak sanggup....!!!".
"Tolonglah Rifai beri kami kesempatan sekali lagi...... kami janji akan melunasi hutang-hutang kami secepatnya.....".
"Tidak bisa.....!!!!! Pokoknya detik ini juga kalian harus sudah mangkat dari rumah ini.....!!!!!, Bodyguard..... singkirkan mereka dari rumah ini.....!!!!".
"Jangan lakuakan itu Rifai.... tolonglah....... kasihanilah kami Rifai.....".
Bang Ali tak mampu berbuat lebih banyak lagi, orang-orang bertubuh kekar itu menyeret keluar keluarga bang Ali. Tak henti-hentinya tangisan pilu & menyedihkan mewarnai sepanjang perjalanan mereka. Rupanya bang Ali bermaksud meminta pertolongan kepada Ahmad.

"Assalamualaikum.......". Bang Ali mengucapkan salam & mengetuk pintu rumah Ahmad.
"Walaikum salam..... Ada apa lagi mas samean kesini...... mau minta bantuan lagi...?".
"Kenapa kamu sampai hati berbicara seperti itu padaku mad...? Kali ini aku benar-benar butuh bantuanmu mad....... rumahku sudah disita Rifai mad, kalau kamu tidak keberatan izinkan kami menumpang sementara dirumah kamu mad... nanti jika kami sudah punya uang kami akan cari kontrakan buat tempat tinggal kami...".
"Apa mas...... ora salah denger aku...? samean mau numpang....? Zaman sekarang ora ono sing gratis mas..... saiki iki lho sembarang podo larang..... lak sampean numpang nang kene terus terang aku keberatan mas.... sampean cari kontrakan aja mas....".
"Tolong ya mad,,,,, kamu kasihani kami mad..... ini cuma sementara aja mad kami numpang disini....".
"Wes poko'e ora iso yo ora iso mas..... sampean cari kontrakan aja mas..... maaf aku ndak bisa bantu....!!".
Bang Ali tak bisa memaksa Ahmad,diapun melangkahkan kaki untuk segera pergi dari rumah Ahmad membawa sakit hati terhadap perlakuan Ahmad kepadanya.
"Oh ya mas, sebelum mas pergi aku cuma mau ngasih tau sama sampean, kalau mas mau cepet keluar dari masalah ini, silahkan mas pergi kehutan larangan itu, disana sudah ada juru kunci yang akan mengerti apa masalah mas & tujuan mas nanti..... cuma itu saran yang bisa ku berikan kepadamu mas....".
Bang Ali sepertinya tak menghiraukan Ahmad,dia pun terus melangkahkan kakinya jauh pergi. Dalam perjalanannya yang tak tentu arah, tiba-tiba terbersit dibenak bang Ali tentang perkataan Ahmad tadi yang menyuruhnya ke hutan terlarang. Diapun menghentikan perjalanannya disebuah gubuk tua dipinggir sawah.
"Ma, kita istirahat digubuk itu dulu ma.... kamu & anak-anak pasti capek ma....".
"Iya yah.... kakiku benar-benar terasa pegal.....".
"Kalian beristirahatlah disini..... biar ayah carikan makanan untuk kalian".
"jangan lama-lama yah.... kasihan anak-anak yah..... mereka pasti sudah sangat lapar....".

Bang Ali pun pergi meninggalkan mereka digubuk tua. Bang Ali terus melangkahkan kakinya menulusuri jalanan persawahan yang tak mulus, rupanya bang Ali membulatkan tekadnya untuk mengambil jalan pintas mengakhiri penderitaannya dengan pergi ke hutan larangan itu. Entah setan apa yang merasukinya iapun seakan lupa terhadap anak & istrinya.



Bersambung

Lanjutkan

7 komentar:

  1. duh kasihan bang Ali, seharusnya ketika dia kena musibah dan cobaan harusnya berpasrah diri sama Yang Maha Kuasa..

    ngapain bang Ali ke hutan larangan?.. bukan nyari pseugihan kaan?

    BalasHapus
  2. hihihihihi... seharusnya gitu mas Gaphe ini alur ceritanya lain..... Yaapa masih jalan-jaln di negeri jiran mas....? Jangan lupa oleh-oleh nya mas.......

    BalasHapus
  3. wah kasian anak-anak yang laper nunggu bapaknya ke hutan larangan. jadi penasaran nih apa bener mo ke hutan larangan nyrai juru kunci itu?

    BalasHapus
  4. hehehe.... insyaallah secepatnyasaya akan rilis lanjutan mas pakies.......

    BalasHapus
  5. Cerita yg sngat bagus, ku kan slalu ikuti kisah coretanmu....

    BalasHapus
  6. hehehehe terima kasih mbak ....... saya juga akan selalu ikuti puisi2 mbak yang keren abis.... salam sahabat...

    BalasHapus
  7. sobat ku
    makasih ya atas postingnya
    sangat bermanfaat,,
    kunjungi jg bahan bacaan saya :
    jurnal
    ekonomi andalas

    BalasHapus

Berkata jangan terbata-bata
Bertutur jangan ngelantur
Bicara nggak pake spam ya
Bukan mengatur, budayakan berbudi luhur